Menjadiseorang public relations, nggak selalu menghadapi situasi positif dan membangun. Akan tetapi, yang kritis seta sulit sekalipun. Sehingga, perusahaan membutuhkan peran kalian untuk strategi, perencanaan, dan bagaimana cara mengelola permasalahan. Apalagi, jika perusahaan kalian tergolong multinasional dan menjadi sorotan publik hingga media. Publicrelations are instrumental in endorsing your brand to the public and making them aware of your offerings. We help you endorse your business by establishing strong ties with your publics. Our PR professionals work with a variety of out-of-the-box ideas specifically suited for your brand, allowing you to spread your word in the market effectively. Pertanyaandiskusi tentang Marketing Public relation Kinh_thuyet2022 3 months ago 5 Comments Home Manajemen Pemasaran Konsep Marketing Public Relations (Mpr) : Definisi Dan Tugas Marketing Public Relations Peluangkerja sebagai Public Relations akan selalu terbuka, karena: 1. Setiap Perusahaan akan Selalu Membutuhkan Public Relations Public relations (PR) akan selalu dibutuhkan oleh suatu perusahaan, perannya sangat penting dalam membangun dan menjaga saling pengertian antara organi­sa­si, stakeholder, dan masyarakat umum. Pertama dia mau ngasih pertanyaan teoretis, tapi untuk mempermudah yang ditanya memahami pertanyaannya, dia masukkin konteks dalam pertanyaannya. Kedua, orang yang ngajuin pertanyaan ini punya sikap kritis, tapi dia mau ke-kritisan-nya make perspektif teori orang lain agar dapat membentuk suatu diskusi yang produktif. Ketiga, orang yang ngajuin pertanyaan ini lagi bikin paper atau tulisan ilmiah yang make suatu teori yang berhubungan dengan teori yang sedang dibahas oleh presentator. TentangPenulis; Menghadapi pertanyaan kritis terhadap Alkitab. martianuswb 2014/05/12 2014/05/12 No Comments on Menghadapi pertanyaan kritis terhadap Alkitab. Post Views: 2,454. Bagi yang mengenal tulisan-tulisan saya, pasti tahu kalau saya senang membaca buku-buku klasik kekristenan dibandingkan dengan buku-buku yang muncul di dekade . Proses PR cukup rumit dan penting untuk bisnis. Kapan pun Anda berencana menyewa firma PR untuk menangani PR untuk bisnis Anda, penting untuk membuat pilihan yang tepat. Namun media digital membuat pencarian menjadi lebih mudah. Pencarian Google tunggal akan memberi Anda beberapa perusahaan PR yang mengklaim sebagai yang terbaik di industri. Merupakan tanggung jawab Anda untuk menemukan agensi yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda. Proses yang paling umum untuk diikuti adalah memilih beberapa kandidat yang sangat baik dan secara pribadi mewawancarai masing-masing dari mereka untuk membuat keputusan akhir. Wawancara ini memainkan peran penting dalam pemilihan Anda karena mereka memberi Anda wawasan berharga tentang agensi PR yang akan Anda pekerjakan. Pertanyaan Wawancara PR Untuk Ditanyakan Pertanyaan yang Anda ajukan selama wawancara harus merupakan campuran pertanyaan teori PR dan pertanyaan tentang pengalaman kandidat. Berikut adalah 12 pertanyaan wawancara PR paling penting dengan jawaban yang dapat Anda tanyakan kepada kandidat untuk menyaringnya dan memilih perusahaan tempat Anda ingin bekerja 1. Menurut Anda, apa sih peran seorang PR professional? Mengajukan pertanyaan ini akan membantu Anda memahami pengetahuan dan persepsi humas kandidat sebagai pekerjaan. Jawaban yang tepat adalah bahwa peran seorang profesional PR adalah untuk menciptakan dan memelihara citra persetujuan klien mereka di depan umum. Tugas mereka adalah memastikan bahwa semua tujuan dan tujuan bisnis yang bersangkutan tercapai dengan pembuatan dan penyebaran pesan promosi dengan cara terbaik. 2. Di sektor mana perusahaan PR dapat bekerja? Di sektor mana Anda bekerja sebelumnya? Perusahaan PR dapat bekerja untuk semua sektor industri utama, termasuk Perusahaan periklanan Lembaga pemerintah Rumah media Lembaga nirlaba Perusahaan publik dan swasta Menanyakan sektor tempat mereka bekerja membantu Anda mendapatkan gambaran tentang pengalaman kerja mereka dan bidang spesialisasi mereka. Jika mereka belum pernah bekerja di sektor tempat Anda bekerja, pastikan mereka mampu melakukannya dengan efisiensi. apa yang Anda miliki yang menjadikan perusahaan Anda pilihan terbaik untuk perusahaan kami? Mengajukan pertanyaan ini akan membantu Anda memahami seberapa sadar diri kandidat dan mengetahui keterampilan apa yang mereka miliki yang dapat Anda fokuskan saat merekrut mereka. Anda dapat mencari keterampilan berikut pada seorang profesional PR untuk meningkatkan peluang mereka dipekerjakan Kreativitas Keterampilan komunikasi yang sangat baik Kepribadian yang ramah Nyaman dengan sering bepergian Penilaian yang bagus Keyakinan dalam melempar ide Bekerja sesuai jadwal Mampu menangani stres kerja 4. Apa perbedaan antara Periklanan dan Hubungan Masyarakat? Tujuan utama periklanan adalah untuk mendorong penjualan dengan langsung meminta prospek untuk terlibat dengan bisnis Anda dan membeli produk / layanan Anda. Di sini, ada pengiklan terkenal yang membayar sejumlah tertentu untuk membeli ruang / waktu media untuk menyiarkan pesan promosi. Di sisi lain, ruang lingkup PR lebih luas dari pada periklanan. Di sini, tidak ada pengiklan yang dapat diidentifikasi dengan jelas yang membayar untuk pesan yang disiarkan. Mereka diedarkan oleh pihak ketiga rumah media, jurnalis, dll. Di platform medianya tanpa campur tangan langsung oleh perusahaan. 5. Bagaimana Anda akan menggunakan media sosial untuk hubungan masyarakat? Media sosial memainkan peran kunci dalam PR karena dikonsumsi secara luas oleh jutaan orang setiap hari. Hampir wajib bagi kandidat Anda untuk menguasai semua platform media sosial utama dan menggunakan yang sama untuk menyebarkan pesan Anda ke publik. Selalu pastikan bahwa kandidat Anda menggunakan platform media sosial yang seimbang sesuai dengan audiens yang Anda targetkan. 6. Seperti apa siaran pers digital itu? Karena peningkatan penggunaan platform digital untuk tujuan PR, siaran pers digital menggantikan siaran pers tradisional. Oleh karena itu, perusahaan humas yang Anda sewa perlu mengetahui fitur, komposisi, dan penggunaan siaran pers tersebut. Siaran pers digital berisi fitur-fitur utama berikut Lebih pendek maksimal dua halaman Ini termasuk multi-media Ini termasuk tautan ke situs web Ini termasuk penggunaan kata kunci untuk tujuan SEO Netral tanpa bias terhadap perusahaan yang dipromosikan 7. Apa tantangan yang ingin Anda atasi? Pemecahan masalah merupakan elemen penting dalam PR. Perusahaan PR yang Anda rekrut harus dapat memahami tantangan khusus yang dihadapi oleh bisnis / entitas publik tertentu dan merancang kampanye PR untuk mengatasinya. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dapat diselesaikan dengan PR yang efektif Miskomunikasi Komunikasi berlebihan Reputasi buruk Kurangnya visibilitas merek Kurangnya kepercayaan internal Citra merek yang buruk Baca Juga –Panduan Utama Bagaimana PR Dapat Membantu Memasarkan Bisnis Baru Anda itu surat nada? Ini adalah salah satu dasar PR dan dapat digunakan dalam bentuk pertanyaan saringan. Ini adalah surat yang dilampirkan dengan siaran pers, yang ditujukan langsung kepada wartawan yang bersangkutan. Sementara siaran pers ditulis dengan orang ketiga, surat pitch ditulis sebagai orang kedua karena merupakan alamat langsung. Surat nada harus benar-benar menarik, terutama di awal. Jurnalis menerima beberapa surat seperti itu setiap hari dan penting agar surat Anda menonjol dengan judul yang menarik perhatian. 9. Apa keuntungan menyewa firma humas eksternal daripada PR internal? Keuntungan utama dari menyewa perusahaan PR eksternal daripada menggunakan PR internal adalah objektivitas yang dibawa oleh perusahaan eksternal. Para profesional PR internal dalam sebuah organisasi mungkin tidak kritis tentang aspek-aspek penting tertentu dan memiliki bias terhadap perusahaan yang tidak pernah sehat untuk melanjutkan hubungan masyarakat. 10. Bagaimana Anda menangani krisis yang mungkin mengancam reputasi klien Anda? Manajemen reputasi dan mitigasi krisis merupakan elemen penting dari Humas. Penting untuk memahami bagaimana kandidat Anda akan membantu Anda keluar dari krisis dengan membantu Anda memenangkan kepercayaan publik. Saat mengajukan pertanyaan ini, Anda dapat memberi mereka masalah praktis untuk dipecahkan untuk mendapatkan ide yang lebih baik tentang pendekatan mereka. 11. Rumah media dan jurnalis mana yang akan Anda dekati untuk menyebarkan pesan tertentu? Setiap rumah media dan jurnalis memiliki spesialisasi masing-masing dan dibutuhkan perusahaan PR yang cerdas untuk mendekati perusahaan yang tepat untuk menyampaikan pesan yang tepat. Berikan contoh yang berbeda kepada kandidat Anda dan tanyakan mengapa mereka memilih jurnalis tertentu untuk menyebarkan pesan yang berbeda. 12. Apa yang membuat perusahaan Anda unik? Meskipun ini pertanyaan klise, penting untuk mengetahui kegunaan tambahan apa yang disediakan oleh kandidat Anda untuk menyampaikan pesan Anda ke publik dengan cara yang efektif. Ini dapat bertindak sebagai keuntungan tambahan dalam mempekerjakan kandidat yang bersangkutan. Ini adalah sebagian besar pertanyaan penting yang dapat Anda tanyakan kepada kandidat Anda sebelum mempekerjakan kandidat terbaik untuk menangani PR Anda. Berdasarkan kebutuhan spesifik Anda, Anda selalu dapat menambahkan pertanyaan yang lebih spesifik untuk memahaminya dengan lebih baik. Origin is unreachable Error code 523 2023-06-16 085909 UTC What happened? The origin web server is not reachable. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Check your DNS Settings. A 523 error means that Cloudflare could not reach your host web server. The most common cause is that your DNS settings are incorrect. Please contact your hosting provider to confirm your origin IP and then make sure the correct IP is listed for your A record in your Cloudflare DNS Settings page. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d81dac81cae0b83 • Your IP • Performance & security by Cloudflare Jika kamu diundang interview untuk posisi public relations PR, kamu mungkin harus siap-siap dengan sejumlah pertanyaan sulit. PR merupakan salah satu profesi yang cukup digemari belakangan ini. Ketika kamu ingin menjadi seorang public relations dan mendapatkan undangan interview dari sebuah perusahaan, otomatis kamu akan merasa sangat senang dan antusias. Meski demikian, kamu harus mempersiapkan dengan matang sebelum interview nanti agar merasa tenang. Nah, sebagai persiapan kamu, Glints akan memberikan beberapa pertanyaan interview PR yang bisa kamu pelajari. 1. Seberapa mahir kamu berbicara? © Public relations tentu tidak akan terlepas dari yang namanya bicara. Pasalnya, seorang public relations juga merupakan representasi dari sebuah perusahaan. Dengan demikian, kamu tentu nantinya akan ditanya seberapa mahir kamu dalam hal berbicara. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kamu juga akan langsung disuruh praktik berbicara saat interview sedang berlangsung. 2. Apa cara yang kamu terapkan saat membangun koneksi? © Membangun koneksi dengan pihak lain merupakan salah satu tugas dari seorang public relations. Seorang PR dituntut untuk dapat membangun pihak yang menguntungkan seperti media ataupun perusahaan lainnya. Terlebih di zaman sekarang media online sudah banyak, otomatis PR juga harus membangun koneksi dengan baik dan tepat. Kamu tentu harus menjawab dengan hati-hati ketika sedang mendapatkan pertanyaan interview PR ini. Kamu bisa menjelaskan bahwa kamu punya cara halus ataupun persuasif. 3. Sumber media apa yang sering kamu ikuti? Mengapa? © Pexels Menurut The Balance Careers, perusahaan ingin mengetahui apa media mana yang sering kamu baca dalam sehari-hari. Untuk itu, pertanyaan ini lazim ditanyakan saat interview kerja untuk posisi PR. Sebagai seorang PR, kamu tentu harus mengetahui berita-berita dari berbagai macam sumber media yang ada saat ini. Hal itu penting agar kamu tidak ketinggalan zaman. Sumber media apa yang kamu baca akan menjadi nilai bagi perusahaan nantinya. Tak hanya itu, kamu juga harus menjelaskan mengapa kamu menyukai media tersebut, apa alasan terkuat kamu menyukainya. Dengan demikian, perusahaan akan mengetahui seberapa besar kualitas kamu dalam mengolah berita dan sebagainya. 4. Mengapa kamu menyukai PR? © Pertanyaan ini sudah dipastikan akan ditanyakan oleh perusahaan saat kamu sedang interview untuk posisi PR. Menurut Wayup, sebelum menjalin hubungan terhadap orang lain, maka kamu harus terlebih dahulu menjelaskan, mengapa kamu sangat menyukai dunia PR? Apa alasan kamu memilih PR? Jawab pertanyaan-pertanyaan itu tanpa keraguan. Pastikan kamu membuat perusahaan mengira bahwa kamu merupakan calon kandidat terbaik sejauh ini. Jawaban yang cerdas tentu akan sangat disukai oleh perusahaan dan kemungkinan besar kamu diterima akan meningkat. 5. Apakah kamu bersedia bekerja di luar jam kerja? © Pexels Pertanyaan interview PR yang satu ini tentu harus kamu jawab dengan hati-hati. Pasalnya, PR memang memiliki tugas yang cukup berat. Mereka harus membangun koneksi dengan bagus di luar maupun di dalam perusahaan. Oleh karena itu, terkadang PR akan bekerja di luar jam kerja untuk mendapatkan target yang tepat. Apabila kamu mendapatkan pertanyaan tersebut, jawab dengan yakin bahwa kamu dapat mengatasi kerjaan yang berada di luar jam kerja walaupun harus bertabrakan dengan rutinitas. Intinya memang seorang PR harus siap selalu ketika ada informasi baru yang masuk, dan ini memang sudah menjadi tugas mereka. Kamu yang ingin menjadi PR tentu harus siap dengan segala risiko yang ada. 6. Berikan contoh masalah yang berhasil kamu atasi © Freepik Menurut Wayup, pertanyaan interview PR yang satu ini harus kamu persiapkan dengan sebaik mungkin. Temukan studi kasus sebelumnya yang pernah kamu selesaikan dengan baik. Misalnya, dalam sebuah organisasi kamu dapat menyelesaikan masalah komunikasi dengan baik antara sponsorship dengan organisasi kamu. Intinya, kamu harus pintar dalam mencari kasus yang benar-benar sudah kamu selesaikan. Perusahaan tentu ingin tahu seberapa besar tanggung jawab kamu dalam menyelesaikan masalah. 7. Menurutmu, apa itu public relations? © Pertanyaan interview PR selanjutnya yang harus kamu perhatikan adalah “menurutmu, apa itu public relations?”. Melansir laman The Balance Career, pihak rekruter melontarkan pertanyaan ini untuk melihat pengetahuanmu seputar dunia PR. Nah, dikarenakan ada berbagai jenis public relations, kamu bisa kaitkan jawaban pada bidang PR yang pernah kamu jalankan. Kamu bisa jawab pengertian PR secara umum lalu tambahkan elemen-elemen dalam bidang di mana kamu memiliki pengalaman. Dengan cara ini, dijamin rekruter akan yakin untuk menerima sebagai anggota baru tim PR perusahaan. 8. Apa platform media sosial favoritmu? © Kebanyakan rekruter akan melontarkan pertanyaan seputar media sosial favoritmu saat interview PR. Mengapa demikian? Sebab, mereka ingin melihat seberapa paham kamu tentang tren yang sedang berlangsung di dunia maya. Tak hanya itu, pihak rekruter juga ingin mengetahui pada media sosial apa kira-kira tim PR bisa menempatkanmu bila kelak diterima. Maka dari itu, sebelum interview, cobalah untuk menguasai berbagai platform media sosial yang sedang booming, seperti Instagram dan TikTok. Dengan itu, kesempatanmu untuk diterima tentunya akan meningkat drastis. 9. Menurutmu, mengapa perusahaan membutuhkan tim public relations? © Pertanyaan berikutnya yang akan dilontarkan saat interview PR adalah pendapatmu terkait kebutuhan perusahaan untuk tim public relations. Melansir laman GRB, pertanyaan ini diberikan rekruter sebagai cara untuk melihat pengetahuanmu mengenai korelasi PR dan bisnis. Rekruter juga ingin mengetahui apakah kamu akan memprioritaskan nama baik perusahaan apabila terjadi konflik yang tak diinginkan. Nah, berdasarkan hal tersebut, jangan lupa untuk pelajari secara saksama peran PR di dunia bisnis yang sudah serba modern ini. Kamu bisa ambil contoh dari beberapa konflik perusahaan serta cara tim PR mereka menuntaskan permasalahan tersebut. 10. Apa perbedaan PR dari advertising? © Tak jarang, rekruter akan memberikan pertanyaan mengenai perbedaan public relations dari advertising saat interview PR. Hal ini mereka tanyakan karena kedua hal tersebut sering dibandingkan oleh masyarakat awam. Pasalnya, public relations dan advertising sejatinya saling berkaitan dan sering digunakan pada satu proyek yang serupa. Nah, tentunya pihak perusahaan tidak menginginkan calon pekerja yang pengetahuannya akan dunia PR masih minim. Maka dari itu, pelajari perbedaan antara PR dan advertising sebelum berangkat interview. 11. Apa saja skill yang bisa kamu berikan untuk tim public relations? © Berikutnya, pihak rekruter juga akan melontarkan pertanyaan terkait skill yang bisa kamu berikan pada tim PR saat interview. Ingat, kamu bukan satu-satunya kandidat yang menjalankan interview. Tentunya sudah banyak yang job seeker andal yang hadir dan menunjukkan kualitas yang mumpuni. Maka dari itu, supaya bisa unggul, kamu harus berikan jawaban serta bukti penggunaannya kepada pihak rekruter perusahaan. Sebagai contoh, kamu bisa paparkan bahwa kamu memiliki skill penulisan yang cakap. Hal ini pernah kamu buktikan saat membuat press release untuk perusahaan tempatmu magang. 12. Mengapa perusahaan harus menerimamu? © Pertanyaan terakhir yang akan diberikan rekruter perusahaan saat interview PR adalah “mengapa perusahaan harus menerimamu?”. Mungkin kini kamu berpikir, bukannya pertanyaan ini akan dilontarkan pada semua jenis interview? Ya, hal tersebut tidaklah salah. Akan tetapi, rekruter di sini ingin melihat seberapa besar kamu menginginkan posisi di tim PR, sesuai ujaran Reuben Sinclair. Saat menjawab, usahakan untuk tidak terdengar seperti mengemis. Justru, kamu bisa paparkan mengenai skill dan pengalamanmu bekerja di bidang PR. Apabila tidak memiliki pengalaman bekerja di perusahaan, kaitkan kemahiran yang kamu raih saat berorganisasi atau menjalankan acara kepanitiaan. Sebagai contoh, kamu bisa jelaskan pada rekruter mengenai pengalamanmu bekerja sampai ketua divisi humas di organisasi kampus. Sampaikan pada mereka mengenai skill yang kamu raih, tugas yang dikerjakan, serta prestasi yang didapatkan bersama tim. Dijamin jawaban seperti ini akan menggaet minat rekruter untuk menerimamu sebagai karyawan di kantor baru. Nah, itulah pemaparan Glints mengenai 12 pertanyaan yang akan dilontarkan dalam interview bidang public relations. Setelah tahu sejumlah pertanyaan interview untuk PR, tentunya kamu makin siap kan untuk mengikuti wawancara kerja? Bila ya, segera kunjungi laman marketplace lowongan kerja Glints. Di sana, terdapat banyak lowongan kerja public relations yang sedang menunggu lamaranmu. Menarik bukan? Jangan sampai ketinggalan. Yuk, cek lowongannya dan daftar sekarang juga. Gratis! 30 Public Relations Interview Questions to prepare for Graduate PR Interview Questions 5 Common PR Interview Questions for Young Job Seekers Public Relations Interview Questions and Answers 1. Apa yang menjadi faktor penentu praktek Public Relations? Hasil riset menyebutkan ada 4 faktor penentu praktek PR dalam organisasi. Persepsi Manajemen terhadap PRBudaya OrganisasiKualitas praktisi PRAda tidaknya pressure group Pakar PR menyatakan bahwa jika manajemen menganggap PR itu penting, maka dia akan diposisikan sebagai unit yang penting dalam struktur organisasi. Sebaliknya, apabila manajemen menganggap peranan PR itu kecil, maka dia akan diposisikan sebagai unit kecil saja dan kontribusinya juga tidak akan berarti/kecil. Dalam prakteknya, yang lebih menentukan adalah akses PR kepada top management, bukan hanya posisinya dalam struktur organisasi. Budaya organisasi menentukan kiprah PR. Sejauh Mana dia diberikan peluang atau kewenangan untuk mengembangkan potensinya. PR hanya dapat berkembang dalam organisasi dengan budaya yang terbuka, artinya dalam keseharian, dimungkinkan terjadinya dialog – yang dapat menghasilkan kesefahaman. Hubungan atasan dan bawahan dan antar sesama karyawan dilakukan atas dasar partnership, bukan otoriter dan kaku dalam bentuk perintah semata. Dalam budaya yang terbuka, PR dapat memberikan masukan tanpa ada rasa takut atau khawatir dipersalahkan. Kualitas praktisi PR juga sangat menentukan efektivitas dan kontribusi peran dan fungsi PR ini. Dia harus faham nilai nilai perusahaan yang menjadi pegangan utama kegiatan komunikasi yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Kualitas terdiri dari kemampuan melaksanakan tugasnya, kreativitas termasuk integritas dirinya sendiri. 2. Mengapa orang awam masih mempertanyakan istilah public relations’ dan sering diartikan sebagai sarana promosi dan publikasi lembaga? Dalam banyak kasus ditemukan perjuangan praktisi PR untuk menjelaskan istilah PR, peran dan fungsinya kepada atasannya, karena keterbatasan pemahaman manajemen atau petinggi organisasi terhadap profesi yang masih dianggap baru berkembang ini. Istilah public relations dapat dijabarkan sebagai suatu komunikasi yang strategis, terarah kepada publik tertentu yang dikomunikasikan dengan berbagai saluran komunikasi agar terjadi perubahan sikap. Public relations berbeda dengan komunikasi massa. Sasaran utama praktek PR adalah perubahan sikap publik. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang tidak suka menjadi netral kemudian diharapkan setelah ada pemahaman melalui komunikasi terbuka, dialog atas dasar kesamaan posisi, kemudian dapat diharapkan dukungan, memberitakan dan merekomendasikan kepada orang lain tentang suatu kebijakan untuk lembaga/pemerintahan atau pembelian produk / destinasi / jasa – yang dilakukan dalam bentuk aktivitas komunikasi atau event. 3. Apakah ada perbedaan istilah “Humas” dengan “Public Relations” berpengaruh dalam prakteknya sehari-hari? Istilah Humas sering diasosiasikan sebagai praktek komunikasi di lembaga pemerintahan dengan konotasi peran yang cenderung lebih teknikal seperti keprotokolan, dokumentasi, kliping berita dan komunikasi dengan media dan diseminasi informasi. Dalam konteks ini, peran dan fungsi lebih sebatas reaktif’, menanggapi opini publik yang mungkin keliru karena terjadinya distorsi komunikasi. Sementara istilah public relations, banyak digunakan di lembaga swasta. Dalam perkembangannya, istilah ini kurang difahami dan seringkali dipersepsikan negatif, dianggap mengandung pengertian yang kurang baik, misalnya istilah purel’, sehingga sejak tahun 1990an di Indonesia dikenal dengan istilah corporate communication’ disingkat corcom’. Konotasi positif atau negatif terhadap istilah ini sebenarnya bukan merupakan kendala – karena pada prakteknya yang dinilai adalah hasil kerja Humas, PR atau CorCom ini – apakah hanya sebatas pemadam kebakaran, penyambung lidah pimpinan, atau sebagai jembatan organisasi dengan konstituennya yang intinya sebagai strategic counselor’ terhadap organisasi dimana praktisi berkarya. Untuk itu, PR harus bersikap proactive’ untuk memberikan pemahaman kepada publik sehingga mendapatkan kepercayaan publik. 4. Humas atau public relations merupakan profesi terbuka Ananto, 2001 yang dinyatakan oleh 90% responden penelitian sederhana yang melibatkan 270 praktisi. Artinya, siapa saja dengan berbagai latar belakang dapat menjadi praktisi dalam bidang ini. Apakah ini menjadi trend di dunia dan di Indonesia ? Banyak penelitian mengenai latar belakang praktisi di bidang public relations ini yang menyimpulkan bahwa semakin tinggi tuntutan kerja seorang praktisi, semakin diperlukan pemahaman dan keterampilan yang lebih dari dari sekedar kurikulum yang diajarkan di sekolah. Disini kemudian muncul istilah generalist’ dan specialist’ dan kalau di organisasi praktisi public relations dunia dimana saya berkembang, dikenal istilah professional’ untuk mereka yang memahami ilmu dan praktek PR, serta mereka yang menderung masuk ke dunia ini tanpa latar belakang ilmu disebut sebagai enthusiastic amateur’. Di Indonesia, sedang dicoba melalui pendidikan Lembaga Sertifikasi Profesi LSP yang memberikan pengakuan terhadap pengetahuan, kemampuan dan keahlian seseorang. Sertifikasi memang diperlukan untuk mencari pekerjaan – tetapi tidak dapat digunakan untuk meyakinkan lingkungan, terutama atasan dimana kita bekerja, karena pada dasarnya kompetensi di lapangan’ yang paling dicari dan dinilai bukan Sertifikasi. Sertifikasi hanya merupakan ticket to ride’ – tetapi bagaimana menjadi the most effective rider adalah persoalan yang lain. 5. Praktek PR yang konservatif tidak dapat menjawab kompleksitas permasalahan yang terjadi. Apa tantangan praktisi PR di era digital sekarang ini? Indikator apa yang menyatakan bahwa seorang PR dapat disebut sebagai professional? Semua potensi praktisi perlu dikerahkan untuk dapat mengikuti tantangan dampak dari keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi komunikasi yang secara signifikan merubah pola komunikasi organisasi secara keseluruhan. Indikator yang jelas dapat dilihat apakah ada unsur Kode Etik Profesi PR yang dilanggar dalam menjalankan praktek PR, atau tabrak saja’ karena tidak tahu, adanya tuntutan atasan, pasar atau target pencapaian nilai ekonomi. Praktisi PR yang profesional, akan patuh pada Kode Etik Profesi. Di Negara maju, setidaknya dalam organisasi profesi PR dunia, dimana saya berkembang, pelanggaran terhadap kode etik ini dapat mengiring seorang anggota untuk 1 diperingati 2 dibekukan keanggotaannya dan 3 diberhentikan sebagai saja, misalnya menyebarkan berita yang sifatnya provokatif, ber-politik, memberi uang suap, memanfaatkan fasilitas yang bukan haknya. Sayangnya, di Indonesia, Kode Etik Kehumasan baru sebatas wacana – belum benar benar diterapkan pada Anggota. Sejak 1992, belum pernah ada seorang praktisi PR kena sanksi Kode Etik. Siapa yang berani mulai? 6. Berbagai kendala dihadapi oleh praktisi PR antara lain dengan atasannya yang kurang memahami peran dan fungsi PR. Bagaimana cara mempersempit kesenjangan antara potensi praktisi PR yang terhambat karena faktor internalnya? “Kami tahu apa yang harus kami lakukan, akan tetapi kendala birokrasi menghambat tugas kami sehingga ya sudah, terserah atasan maunya apa”. Dimanapun di dunia ini, yang namanya atasan – selalu merasa lebih tahu daripada bawahannya. Rasa lebih tahu ini secara perlahan tapi pasti dapat mulai dikurangi melalui pendekatan persuasif dalam bentuk komunikasi yang sifatnya advocacy – berupa story telling, atau analisa kasus terhadap peristiwa yang terjadi pada lembaga lain biasanya pesaing dan bagaimana strategi komunikasi yang sebaiknya dilakukan, sehingga dapat keluar dari permasalahan yang dihadapi exit strategy. Pendekatan rapport’ dengan atasan ini, perlu dilakukan secara sistematis dengan memperkenalkan early warning system’ yang merupakan peran penting dalam praktek kehumasan. Biasanya praktek PR yang manajerial dan strategis, baru dapat dibentuk, jika terjadi krisis. Cara lain dengan mengadakan praktek simulasi / role play yang dihadiri oleh pimpinan organisasi what if”, yang dapat disisipkan dalam acara tahunan yang dilakukan dalam suasana santai – tapi ada key message’ yang terarah kepada top manajemen – sehingga diharapkan adanya pemahaman mengenai peran dan fungsi PR yang lebih strategis. 7. Apakah semua lembaga harus memiliki Humas yang strategis? Lembaga atau organisasi yang berfungsi hanya sebatas memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih mementingkan diseminasi informasi kepada publik yang berkepentingan. Jika tidak banyak terdapat perubahan kebijakan, tidak banyak terjadi gejolak – diperlukan Humas sebatas memberikan pelayanan informasi. Semakin tinggi tingkat kepentingan publik terhadap keberadaan lembaga itu, semakin diperlukan Humas yang manajerial dan strategis – untuk mengantisipasi reaksi publik atas kebijakan baru yang akan tinggi tekanan dari pihak luar, biasanya – peran dan fungsi PR semakin dituntut ke arah yang managerial dan strategis. Semakin banyak perubahan dan tekanan terhadap perusahaan, semakin tinggi tuntutan terhadap praktek PR ke arah yang lebih manajerial dan strategis. Dalam era digital ini – sudah saatnya semua organisasi, baik pemerintah maupun swasta – tidak lagi menerapkan Humas yang konvensional protocol, dokumentasi, klarifikasi berita, press clipping dan sebagainya. Penguasaan media terutama media sosial perlu dimiliki oleh praktisi Humas, karena opini publik dapat berkembang yang dipicu dengan hanya satu foto atau tulisan di FB – yang dapat memungkinkan terjadinya sentimen publik dan berpotensi menjadi trending topic di media sosial dalam kalangan tertentu. Karena itu, diperlukan praktisi PR yang peka dan positioning – sehingga tidak menjadi kontradiksi antara nilai perusahaan dengan kelakuan pribadi praktisi PR nya. 8. Apa indikator / ukuran keberhasilan praktik PR? Banyak praktisi yang kurang memahami bahwa target kegiatan PR yang sebenarnya adalah merubah sikap publik’. Perubahan sikap publik ini tidak semata mata dapat dilakukan melalui iklan jor joran, jumpa pers yang berkali-kali, kampanye heboh di media terutama televisi dengan biaya yang aduhai. Tergantung di tahap mana kita mau mengevaluasi keberhasilan praktek PR apakah dari banyaknya media komunikasi yang dihasilkan, banyaknya kegiatan, besarnya anggaran yang digunakan atau sejauh mana kegiatan PR dapat merubah sikap publik. Sebagai ilustrasi jika yang diharapkan adalah merubah sikap publik, perlu satu rangkaian strategi pencapaian kearah yang diharapkan – kampanye yang terarah, terprogram dan berkesinambungan. Untuk korporat bisnis’ – indikator keberhasilan program adalah memperkecil kesenjangan antara harapan pimpinan lembaga dan harapan publik yang dapat dipenuhi oleh lembaga. Ukuran keberhasilan praktek PR hanya dapat diperoleh melalui Riset – yang dilakukan sebelum, di tengah dan sesudah program komunikasi dilakukan. Sejauh Mana terjadi perubahan kearah perbaikan trend, ratio, presentasi – yang diukur secara kuantitatif. Keberhasilan untuk menyajikan data secara kuantitatif inilah yang pada umumnya merupakan kendala praktisi PR untuk meyakinkan atasannya, sejauh mana PR memberikan kontribusi finance dan non finance kepada organisasi. Profesional PR harus dapat berbicara kepada manajemen dengan hard fact’ dalam bahasa Manajemen atau ROI. bukan ilusi, emosi atau asumsi. Posted in Majalah PR Indonesia Related PapersDalam ilmu komunikasi, penelitian terhadap fenomena-fenomena atau realitas komunikasi terus mengalami perkembangan dari masa ke masa sehingga melahirkan tradisi-tradisi komunikasi yang unik. Menurut Craig—seorang profesor komunikasi Universitas Colorado, sebagaimana ditulis dalam Teori Komunikasi Individu Hingga Massa 2015, ilmu komunikasi memiliki iri atau sifat yang selalu diwarnai dengan berbagai teori dan sudut pandang perspektif. Robert Craig berhasil memetakan ilmu komunikasi ke dalam tujuh 7 bidang tradisi dalam teori komunikasi yang disebut sebagai 7 tradisi Griffin, 200022-35 , yakni Tradisi Sosiopsikologi, Tradisi Sibernetika, Tradisi Sosiokultural, Tradisi Fenomenologi, Tradisi Semiotika, Tradisi Retorika, dan Tradisi Kritis. untuk membaca dalam tampilan "buku digital" bisa klik Fenomena Public Relations Menggunakan Teori-teori Public RelationsFinsensius Yuli Purnama, Effy Paud, Masduki Baseran, Rino F E B R I A N N O Boer, Hasyim Widhiarto, Irwan Irs, Hasmah Zanuddin, Dadi Ahmadi, Sri Sediyaningsih, Heintje Hendriek Daniel Tamburian, Endah Murwani, Yesi Puspita, Nieke Monika, Yuli Widya Madala Surabaya, Djudjur Luciana, Nina Widyawati, Damayanti Wardyaningrum, Wirawan Respati, Eki Baihaki, Rahmat Edi Irawan Rei, Choirul Fajri, Indiwan seto wahjuwibowo, Irwansyah Irwansyah, Dorien Kartikawangi, Suzy Azeharie, Sevly Putri, Melati Putri, inong surayaProsiding Seminar Nasional Ilmu Komunikasi yang dilaksanakan di Padang Sumatera Barat mengangkat tema komunikasi Politik 2014Discourse analysis atau analisis wacana merupakan sebuah metodologi penelitian kualitatif yan sebenarnya juga daat dilakukan secara kuantitatif. Dalam satu-dua dekade terakhir telah bermunculan beberapa riset bidang kesehatan yang mengaplikasikan discourse Bagi umat Islam al-Qur'an merupakan kitab suci yang berisi petunjuk tanpa keraguan, 1 petunjuk kepada jalan yang paling lurus, 2 pembimbing kepada kebenaran, 3 serta penjelas terhadap segalah sesuatu. 4 Meski demikian keyakinan saja ternyata tidaklah cukup, sebab al-Qur'an sebagai petunjuk tidaklah proaktif memberi petunjuk layaknya manusia. Manusialah yang bertanggung jawab membuat al-Qur'an aktif berbicara sehingga ia berfungsi sebagai petunjuk. Agar al-Qur'an proaktif memberi petunjuk kepada umat manusia ke jalan yang benar, para pemikir muslim pun melakukan pembacaan terhadapnya untuk menggali pesan petunjuk tersebut. Meski tujuannya sama, pembacaan tersebut tidak lantas dengan sendirinya melahirkan pemahaman yang sama terhadap al-Qur'an. Ketidaksamaan pemahaman itu tidak hanya dilatari perbedaan latar belakang sosial mereka, tetapi juga pendekatan yang dipakai dan ideologi yang mendasarinya. 5Abtract Contemporary popular discourses about Islam, shari'a and Islamic law in the West is often filled with the issues of terrorism, anti-democracy, human rights violation and women's minor status in Islam, which all lead into negative perception. Unlike such popular views, Western scholars perceive shari'a from various perspectives. They are quite critical to shari'a in a positive sense. This article discusses Western scholarly discourses on shari'a by comparing the thoughts and works of two most prominent figures, Wael B. Hallaq and M. Barry Hooker, who always concern with shari'a, Islamic law and related social issues, such modernity, colonialism and legal system. Based on the model of the study of public figure and grounded its main data on Hallaq's and Hooker's main work, this study shows that these two scholars promote idealistic and contextual perception on shari'a. From the ideal point of view, shari'a is seen a product of scholarly independent work by Muslim jurists, whose authority now is unfortunately taken over by the state. The contextual view regards shari'a as flexible Islamic religious or legal norms that are adaptable to the changing social and political environments so they are easily transferrable into the educational, legal and political system in a country like Indonesia, entailing what is called " national mazhab ". Wacana populer kontemporer tentang Islam, syariat dan hukum Islam di Barat didominasi oleh isu-isu tentang terorisme, anti demokrasi dan pelanggaran hak asasi manusia sampai status minor perempuan dalam Islam, yang memunculkan kesan kurang baik. Berbeda dengan persepsi populer, kalangan sarjana di Barat melihat syariat dari sudut pandang yang beragam. Meskipun tidak dipungkiri 07 Sabtu Des 2013 Tulisan dibawah ini adalah ilmu yang saya dapat dari membaca buku “Public Relation & Crisis Management Pendekatan Critical Public Relations Etnografi Kritis & Kualitatif” karya Rachmat Kriyantono, dosen saya. Bicara tentang Citical PR, yuk kita kupas sampai kulit terdalamnya. Baik, akar pendekatan kritis sendiri dapat dilihat dari pemikiran Friedrich Hegel dan Karl Marx. Kemudian pemikiran kedua tokoh ini berkembang dalam ranah Sosiologi yang kemudian diadopsi oleh Ilmu Komunikasi. Salah satu karya pemikiran Hegel adalah Filsafat Hegel yang memiliki dua esensi pemikiran yaitu dialektika dan idealisme. Dialektika mencangkup cara berpikir dan citra dunia. Sementara idealism lebih menekankan pentingnya pikiran dan produk mnetal daripada kehidupan material. Marx menawarkan teori Marxisme tentang masyarakat kapitalis dimana pada dasarnya manusia itu produktif, artinya manusia berkeinginan bekerja di dalam dan dengan alam agar dapat bertahan hidup. Munculah kapitalisme sebagai struktur yang membuat batas pemisah atara seorang individu dan proses produksi. Kemudian muncul paham sebagai “reaksi” dari Marxisme yakni sosialisme paham untuk menanggulangi ekses sistem industri dan kapitalisme. Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian memengaruhi bagaimana pendekatan kritis memaknai realitas. Bagaimana dominasi dan represi yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan power dalam masyarakat, upaya mempromosikan emansipasi, kebebasan dan persamaan dengan menggali kondisi-kondisi social yang memarjinalkan pihak-pihak tertentu serta upaya memberikan solusi melalui sinergi teoritis dan praktis agar terwujud perubahan social. Sejauh ini kajian Public Relations banyak di dominasi oleh pendekatan objektif yang memandang praktik PR sebagai sesuatu yang objektif dan netral. Pendekatan objektif ini memandang bahwa elemen atau instrument organisasi hierarki, teknologi, regulasi merupakan realitas objektif yang dapat memengaruhi publik. Padahal sebenarnya ada pula yang menunjukan bahwa PR sering dijadikan sebagai “alat” manejemen untuk menyebarkan ideologi organisasi yang berpotensi untuk mendominasi publiknya. Sementara, publik sendiri merupakan koalisi-koalisi dan konstituen-konstituen yang mempunyai kebutuhan, nilai-nilai dan persepsi yang berbeda-beda yang juga punya power untuk memengaruhi strategi organisasi. Adanya realitas lain selain realitas objektif yang kemudian mendorong munculnya pendekatan baru “Critical PR”. Menurut Trujillo & Toth, pendekatan ini memandang organisasi sebagai arena pertarungan ideology dan ekonomi, seperti kuasa power, pengaruh, dan kontrol. Pendekatan ini juga memandang publik sebagai koalisi-koalisi dan konstituen-konstituen yang mempunyai kebutuhan, nilai-nilai dan persepsi yang berbeda-beda. Pendekatan ini berfokus pada aspek-aspek politis dari organisasi dan mengkaji bagaimana organisasi menggunakan komunikasi untuk tawar-menawar serta bernegosiasi dengan beragam koalisi dan konstituen tersebut. Kriyantono 2012 Jadi, pendekatan ini dapat dikatakan berfokus pada tujuan program pada praktik Public Relations, bagaimana membangun komunikasi dengan stakeholder dan publiknya, teknik negosiasi dan lobbying, bagaimana mengatasi krisis dan bagaimana mempromosikan produk. REFERENSI Kriyantono, R. 2012. Public Relations & Crisis Management Pendekatan Critical Public Relation, Etnografi Kritis & Kualitatif. Jakarta Kencana Prenada Media.

pertanyaan kritis tentang public relations